Ilustrasi artikel Budaya Membuang Sampah Sembarangan
Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika mendapati ada banyak sampah berserakan. Bahkan, hingga membentuk gunungan sampah, yang baunya kadang tak dapat lagi ditahan. Seiring problema sampah yang semakin hari semakin menumpuk dan entah bagaimana baiknya untuk menanggulangainya. Banyak orang yang menulis tentang artikel kebersihan lingkungan, mereka bercerita tentang asal-usul sampah, tentang harapan-harapannya melihat lingkungan bersih dari sampah, bahkan tak sedikit mereka yang memberi solusi untuk mengurangi penumpukan sampah-sampah itu.
Sehingga bukan hanya budaya hura-hura atau glamour saja yang ditiru oleh bangsa Indonesia, namun kesadaran kaum barat untuk bergaya hidup bersih dan sehat juga patut ditiru.
Menilik hal tersebut, agaknya di Indonesia juga perlu adanya program manajemen sampah. Manajemen sampah adalah aturan yang mengatur dan mengelola sistem pembuangan dan penanganan sampah.
Manajemen sampah dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
Bahaya di Balik Sampah
Selanjutnya keinginan untuk menuliskan tentang artikel Budaya Membuang Sampah Sembarangan, ingin menyampaikan bahaya bahaya apa saja yang timbul akibat membuang sampah sembarangan. Antara lain :Dampak Bagi Kesehatan
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menimbulkan penyakit.
Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan sampah adalah sebagai berikut:
- Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.
- Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
- Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernakan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.
- Sampah beracun: Telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40.000 orang meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.
Dampak Sampah Terhadap Lingkungan
Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas-cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat meledak.
Dampak Sampah terhadap keadaan social dan ekonomi
- Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat: bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana-mana.
- Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan.
- Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting di sini adalah meningkatnya pembiayaan secara langsung (untuk mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja, rendahnya produktivitas).
- Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain-lain.
- Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.
- Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat: bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana-mana.
- Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan.
- Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting di sini adalah meningkatnya pembiayaan secara langsung (untuk mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja, rendahnya produktivitas).
- Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain-lain.
- Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.
Manajemen Sampah
Untuk urusan lingkungan bersih, ada baiknya Anda meniru pada pola hidup masyarakat di luar negeri. Inggris dikenal memiliki jalan-jalan umum yang luar biasa bersihnya, sedangkan Paris di setiap sudut ada tong-tong sampah yang memang benar-benar difungsikan oleh masyarakat setempat untuk membuang sampah. Belum lagi Belanda, yang bahkan selalu ada program pendaur-ulang sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang. Lain lagi dengan Amerika yang memiliki manajemen sampah yang cukup baik penanganannya.Sehingga bukan hanya budaya hura-hura atau glamour saja yang ditiru oleh bangsa Indonesia, namun kesadaran kaum barat untuk bergaya hidup bersih dan sehat juga patut ditiru.
Menilik hal tersebut, agaknya di Indonesia juga perlu adanya program manajemen sampah. Manajemen sampah adalah aturan yang mengatur dan mengelola sistem pembuangan dan penanganan sampah.
Manajemen sampah dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
- Biasakan dari anak-anak untuk membuang sampah di tempat sampah, dan jadikan hal ini sebagai budaya hidup sehat keluarga.
- Mengajarkan anak untuk hidup sehat.
- Menyediakan tong sampah yang berbeda, dengan kegunaan untuk: sampah basah (wet waste), sampah kering (dry waste) dan sampah bekas bahan berbahaya (B3), serta sampah daur ulang (recycle waste).
- Bedakan setiap tempat sampah dengan warna sesuai dengan aturan kesehatan internasional. Yakni hijau untuk tong sampah basah, kuning untuk tong sampah kering, dan merah untuk tong sampah B3, serta biru untuk tong sampah daur ulang.
- Bentuk organisasi pengelola sampah kota.
- Jangan terdiri dari orang-orang yang digaji khusus sebagai orang suruhan, tetapi organisasi pengelola sampah tersebut adalah benar-benar organisasi yang digerakkan oleh masyarakat setempat yang dijadikan tanggung jawab bersama lingkungan.
- Organisasi pengelola sampah tersebut, terdiri atas leader, wakil, bendahara, dan anggota.
- Tugas leader adalah mendata jumlah kepala keluarga, kepala lingkungan (kepala desa/dusun), jumlah total masyarakat, jumlah rumah dalam setiap blok/lingkungan, hingga pekerjaan masyarakat dan hari off atau libur mereka.
- Tugas wakil adalah mencari peralatan kebersihan, menyediakan sejumlah tong-tong sampah untuk setiap blok, mengatur jadwal piket atau tugas sehari-hari, menghubungi pihak penerima sampah atau TPA (tempat pembuangan akhir). Dan juga mengadakan unit-unit kendaraan untuk membuang sampah-sampah, yang dipinjam dari masyarakat sendiri. Yang diutamakan adalah jenis kendaraan dengan bak terbuka, sehingga dapat memuat tong-tong sampah atau plastik sampah (trash bag).
- Tugas bendahara adalah mengumpulkan dana swadaya dari masyarakat untuk mendanai sejumlah program kebersihan di lingkungan. Beberapa hal yang memerlukan dana adalah: membeli trash bag, membeli tong-tong sampah (trash bin), membeli sejumlah pohon untuk ditanam di lingkungan yang berguna untuk menahan air tanah tidak lekas hanyut, dan membeli sejumlah alat-alat kebersihan.
- Kemudian pula pengurus menerbitkan majalah-majalah lingkungan yang dikelola secara swadaya, yang antara lain isinya adalah berupa artikel kebersihan lingkungan.
- Tugas semua anggota adalah terlibat langsung dalam proses pembersihan lingkungan, dan bukan mengandalkan pada satu orang yakni petugas kebersihan untuk digaji saja. Tetapi tidak memiliki attitude yang terpuji, dengan tetap membuang sampah sembarangan. Sehingga proseslearning by doing dapat tercipta dengan sendirinya.
- Kesemua pengurus dan anggota dari manajemen sampah tersebut, terus melakukan dan membuat program-program kebersihan lingkungan. Dan pada tahap selanjutnya bahkan memperluas kegiatan dengan program revitalisasi lingkungan (environment revitalization) yang menitikberatkan pada program, penghijauan lingkungan, pemeliharaan sungai alam, dan pelestarian burung dan hewan alam di lingkungan hidup masyarakat.
Copyright©2013 Yoga Adi blognya-cah-ndeso.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar